BAB
I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Infark miokardium, atau serangan jantung, terjadi
ketika salah satu arteri koroner tersumbat sepenuhnya. Daerah mikardium yang
dipasok oleh arteri koroner kehilangan pasokan darahnya dan mati karena
kehilangan oksigen dan nutrien lain.
Penyumbatan koroner atau serangan jantung dan
infark miokardium mempunyai arti yang sama namun istilah yang disukai adalah
infark miokardium, di Amerika serikat terjadi jutaan serangan penyakit ini
pertahun. Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung
akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.
Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung
terganggu.
Gejala yang sering muncul pada penderita infark miokardium biasanya nyeri dada
yang tiba – tiba dan berlangsung terus menerus, nyeri akan terasa semakin berat
sampai tidak tertahankan, rasa nyeri yang tajam dan berat, biasa menyebar
kebahu dan lengan dan biasanya lengan kiri. Dan menetap selama berjam -
jam sampai beberapa hari dan tidak akan hilang dengan istirahat maupun
nitrogliserin, nyeri biasanya sering diserai napas pendek, pucat, berkeringat
dingin, pusing kepala,mual dan muntah – muntah.
Banyak pasien dengan infark miokardium biasanya
pria, diatas 40 tahun dan mengalami aterosklerosis pada pembuluh koronernya,
sering disertai hipertensi aterial, serangan bisa terjadi juga pada pria atau
wanita muda diawali 30 an atau bahkan 20-an, wanita yang memakai kontrasepsi,
pil, dan merokok mempunyai resiko sangat tinggi, namun secara keseluruhan,angka
kejadian infark miokardium pada pria lebih tinggi di banding dengan wanita pada
semua usia. Meskipun pasien biasanya pria dan berusia 40 tahun, namun semua
umur yang mengalami gejala dan tanda-tanda yang sudah disebutkan diatas perlu
segera ditangani.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
Pengertian infrak miokardium ?
2. Bagaimana
klasifikasi infrak miokardium ?
3. Apa
etiologi dari penyakit Infrak miokardium ?
4. Apa
Patogenesis dari infrak miokardium ?
5. Apa
gejala infrak miokardium ?
6. Bagaimana
Diagnosis dari infrak miokardium ?
7. Bagaimana
Penatalaksanaan dari infrak miokardium ?
8. Apa
komplikasi dari infrak miokardium ?
9. Apa
Prognosis dari infrak miokardium ?
TUJUAN
1. Mengetahui
Pengertian infrak miokardium
2. Mengetahui
klasifikasi infrak miokardium
3. Mengetahui
etiologi dari penyakit Infrak miokardium
4. Mengetahui
Patogenesis dari infrak miokardium
5. Mengetahui
gejala infrak miokardium
6. Mengetahui
Diagnosis dari infrak miokardium
7. Mengetahui
Penatalaksanaan dari infrak miokardium
8. Mengetahui
komplikasi dari infrak miokardium
9. Mengetahui
Prognosis dari infrak miokardium
BAB
II
PEMBAHASAAN
PENGERTIAN
Infark miokardium, atau serangan jantung, terjadi
ketika salah satu arteri koroner tersumbat sepenuhnya. Daerah mikardium yang
dipasok oleh arteri koroner kehilangan pasokan darahnya dan mati karena
kehilangan oksigen dan nutrien lain.
Infark Miokard Akut (IMA) adalah kerusakan jaringan
miokard akibat iskemia hebat yang terjadi secara tiba-tiba. Kejadian ini berhubungan
erat dengan adanya trombus yang terbentuk akibat rupturnya plak ateroma. Selama
berlangsungnya proses agregasi, platelet melepaskan banyak ADP, tromboksan A2
dan serotonin. Ketiga substansi ini akan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh
darah koroner yang aterosklorotik. Apabila keadaan ini mengakibatkan oklusi
serius pada arteri koroner, maka terjadi infark miokard.
Anatomi
Daerah di miokardium yang mengalami infark
bergantung ada arteri koroner yang tersumbat dan luasnya aliran darah
kolateral. Ada 2 sistem pasokan darah utama menuju mioardium, yang satu memasok
sisi kanan jantung dan yang satu lagi memasok sisi kiri jantung.
Arteri koronaria dekstra berjalan diantara atrium
kanan dan ventrikel kanan kemudian melingkari permukaan posterior jantung. Pada
sebagian besar individu ia memberikan cabang desenden yang memasok nodus AV.
Arteri koronaria sinistra bercabang menjadi ramus
intraventrikular anterior dan ramus sirkumfleksus. Ramus intraventrikular
anterior memasok dinding anterior jantung dan sebagian besar sekat
intraventrikular. Ramus sirkumfleksus berjalan diantara atrium kiri dan
ventrikel kiri dan memasok dinding lateral ventrikel kiri.
Klasifikasi IMA
Infark
Miokard Akut diklasifikasikan berdasar EKG 12 sandapan menjadi:
1. Infark miokard akut ST-elevasi (STEMI) :
oklusi total dari arteri koroner yang menyebabkan area infark yang lebih luas
meliputi seluruh ketebalan miokardium, yang ditandai dengan adanya elevasi
segmen ST pada EKG.
2.
Infark miokard akut non ST-elevasi
(NSTEMI) : oklusi sebagian dari arteri koroner tanpa melibatkan seluruh
ketebalan miokardium, sehingga tidak ada elevasi segmen ST pada EKG.
Etiologi dan Faktor Resiko
Menurut Alpert (2010), infark miokard terjadi oleh
penyebab yang heterogen, antara lain:
- Infark miokard tipe 1 : Infark miokard secara spontan terjadi karena ruptur plak, fisura, atau diseksi plak aterosklerosis. Selain itu, peningkatan kebutuhan dan ketersediaan oksigen dan nutrien yang inadekuat memicu munculnya infark miokard. Hal-hal tersebut merupakan akibat dari anemia, aritmia dan hiper atau hipotensi.
- Infark miokard tipe 2 : Infark miokard jenis ini disebabkan oleh vaskonstriksi dan spasme arteri menurunkan aliran darah miokard.
- Infark miokard tipe 3 : Pada keadaan ini, peningkatan pertanda biokimiawi tidak ditemukan. Hal ini disebabkan sampel darah penderita tidak didapatkan atau penderita meninggal sebelum kadar pertanda biokimiawi sempat meningkat.
- Infark miokard tipe 4a : Peningkatan kadar pertanda biokimiawi infark miokard (contohnya troponin) 3 kali lebih besar dari nilai normal akibat pemasangan percutaneous coronary intervention (PCI) yang memicu terjadinya infark miokard.Infark miokard tipe 4b : Infark miokard yang muncul akibat pemasangan stent trombosis.
- Infark miokard tipe 5 : Peningkatan kadar troponin 5 kali lebih besar dari nilai normal. Kejadian infark miokard jenis ini berhubungan dengan operasi bypass koroner.
Ada empat faktor resiko biologis infark miokard yang
tidak dapat diubah, yaitu usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga. Resiko
aterosklerosis koroner meningkat seiring bertambahnya usia. Penyakit yang
serius jarang terjadi sebelum usia 40 tahun. Faktor resiko lain masih dapat
diubah, sehingga berpotensi dapat memperlambat proses aterogenik. Faktor-
faktor tersebut adalah abnormalitas kadar serum lipid, hipertensi, merokok,
diabetes, obesitas, faktor psikososial, konsumsi buah-buahan, diet dan alkohol,
dan aktivitas fisik.
Patogenesis
Patogenesis infark miokard akut (STEMI dan NonSTEMI)
disebabkan karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen di
miokard akibat aterosklerosis atau plak.
Proses
terjadinya fissure dan ruptur plak
Oklusi total atau hamit total sering terjadi secara
tiba-tiba ada arteri yang sebelumnya sudah mengalami stenosis. Plak matur
terbentuk dari dua komponen yaitu inti kaya lipid dan protein matriks
ekstraseluler yang membentuk fibrous cap. Adanya penumpukan lemak yang
berlebihan serta infiltrasi sel busa berhubungan dengan fisssura dan ruptur
plak. Sebagian besar lesi ini mengalami rupture pada tempat yang mengalami
stress mekanik paling besar, misalnya pada daerah plaque cap dengan intima
normal sekitarnya atau pada daerah lengkungan penumpukan lemak.
Trombosis akut dan agregasi platelet
Trombosis akut dan agregasi platelet
Trombosis lokal dapat terjadi setelah ruptur plak.
Inti lipid merupakan substrat utama pembentukan thrombus yang kaya platelet.
Otot polos maupun sel busa dalam inti berhubungan dengan ekspresi tissue factor
pada lak yang tidak stabil. Apabila terjadi kontak dengan darah, tissue factor
berinteraksi faktor VIIa untuk memulai kaskade reaksi enzimatik yang
mengakibatkan terbentuknya thrombin dan penumpukan fibrin lokal. Beberapa lesi
vaskular akut dapat pulih kembali jika fissure dapat diperbaiki oleh adanya
keseimbangan antara thrombosis dan trombolisis.
Adesi platelet terjadi melalui reseptor GP 1b
bersamaan dengan faktor von Willebrand (1). Ini diikuti oleh aktivasi platelet
(2), yang memicu perubahan bentuk dalam platelet, degranulasi dan ekspresi
reseptor glikoprotein IIb/IIIa pada permukaan platelet dengan aktivasi
reseptor, yang dapat mengikat fibrinogen. Langkah terakhir adalah agregasi
platelet (3), fibrinogen (atau faktor von Willebrand) mengikat reseptor
glikoprotein IIb/IIIa yang aktif.
Agregasi platelet dan pelepasan komponen granuler
yag dapat meningkatkan perlekatan platelet, vasokonstriksi, dan pembentukan
trombus merupakan respon yang terjadi akibat ruptur dinding endotel. Reaktan
yang dilepaskan pada fase akut inflamasi, sitokin, infeksi kronis, dan
katekolamin dapat menyebabkan rangsangan sistemik yang dapat meningkatkan
produksi tissue factor, aktivitas prokoagulasi, dan hiperagregabilitas
platelet.
Vasospasme arteri coroner
Vasospasme arteri coroner
Walaupun bukan merupakan pathogenesis dasar SKA,
vasospasme episodic dapat mengubah plak arteri koroner yang sebelumnya stabil
menjadi tidak stabil yaitu terjadi ruptur intima, penetrasi makrofag dan
agregasi trombosit.
Gejala dan Tanda
Gejala dan Tanda
Gambaran klinis infark miokard umumnya berupa nyeri
dada substernum yang terasa berat, menekan, seperti diremas-remas dan terkadang
dijalarkan ke leher, rahang, epigastrium, bahu, atau lengan kiri, atau hanya
rasa tidak enak di dada. IMA sering didahului oleh serangan angina pektoris
pada sekitar 50% pasien. Namun, nyeri pada IMA biasanya berlangsung beberapa
jam sampai hari, jarang ada hubungannya dengan aktivitas fisik dan biasanya
tidak banyak berkurang dengan pemberian nitrogliserin, nadi biasanya cepat dan
lemah, pasien juga sering mengalami diaforesis.
Diagnosis
Diagnosis
Tiga kriteria untuk menegakkan diagnosis IMA ialah
adanya nyeri dada khas infark, perubahan gambar EKG, dan kenaikan biomarker
jantung seperti enzim creatine kinase (CK), creatine kinase myocardial band
(CKMB), mioglobin dan troponin.
Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan
kelainan. Bila telah terjadi komplikasi seperti gagal jantung, maka dapat
ditemukan irama gallop (bunyi jantung ketiga) atau ronki basah. Bila terjadi
aritmia dan hipotensi, maka penderita mungkin tampak pucat dan berkeringat
dingin. Kadang-kadang pasien IMA datang dengan keluhan nyeri ulu hati, dada
rasa terbakar, atau rasa tidak nyaman di dada yang sulit digambarkan penderita.
Berhubung karena usaha reperfusi secepatnya dengan
trombolitik kurang dari 6 jam setelah serangan IMA menentukan prognosis
penderita IMA, sedangkan kenaikan enzim atau perubahan EKG bisa baru terjadi
sesudah 6 jam, sehingga dibenarkan untuk mendiagnosis IMA hanya berdasrkan dua
dari tiga kriteria tersebut di atas :
Angina Pektoris khas infark
Angina Pektoris khas infark
Nyeri dada akibat infark memiliki karakteristik khas
berupa nyeri dada substernal dan menjalar ke tangan kiri, bahu, atau leher.
Kualitas nyeri biasanya berupa nyeri tumpul seperti rasa tertindih, rasa berat,
atau seperti diremas-remas. Kuantitas nyeri dari 20 menit dengan intensitas
nyeri makin lama makin bertambah. Tidak hilang dengan istirahat atau pemberian
nitrat. Sebagian besar disertai gejala sistemik seperti keringat dingin, mual,
muntah, sesak berdebar-debar, atau lemas.
Perubahan EKG
Perubahan EKG
Perubahan elektrokardiografik yang khas ada infark
terjadi hanya ada sadapan-sadapan yang terletak di atas atau di dekat lokasi
infark. Infark inferior melibatkan permukaan diafragmatik jantung. infark ini
sering disebabkan oleh penyumbatan a. koronaria dekstra atau cabang
desendennya. Perubahan elektrokardiografik yang khas dilihat pada sadapan
inferior (II,III, dan AVF).
Infark lateral melibatkan dinding lateral kiri
jantung. Infark ini sering disebabkan oleh penyumbatan ramus sirkumfleksus a.
koronaria sinstra. Perubahan elektrokardiografik yang dilihat pada sadapan
lateral (I, AVL, V5, dan V6).
Infark anterior melibatkan permukaan anterior
ventrikel kiri dan biasanya disebabkan oleh penyumbatan ramus
intraventrikularis anterior a. koronaria sinstra. Semua sadaan prekordial (V1
sampai V6) dapat menunjukkan perubahan.
Infark posterior melibatkan permukaan posterior
jantung dan disebabkan oleh penyumbatan a. koronaria dekstra. Tidak ada sadaan
yang terletak di atas dinding posterior. Pada IMA transmural, gambaran EKG
biasanya dimulai dari depresi segmen ST dengan T terbalik, kemudian berubah
menjadi elevasi segmen ST dan menghilangnya gelombang R, sampai terbentuk
gelombang Q. Jadi pada pasien dengan nyeri dada khas infark disertai gambaran
ST-segmen elevasi pada EKG, maka pada pasien tersebut didiagnosis STEMI.
Sedangkan pada IMA non-transmural, tidak ada perubahan EKG yang spesifik,
kecuali depresi segmen ST. Apabila dilakukan pemeriksaan biomarker jantung
yaitu troponin atau CKMB dan ditemukan positif, maka pasien didiagnosis sebagai
NSTEMI. Apabila pada pemeriksaan biomarker jantung ditemukan negatif, maka
pasien didiagnosis sebagai UAP.
Sebenarnya pada permulaan suatu infark telah terjadi
perubahan EKG yang disebut fase hiperakut, yaitu gelombang T yang tinggi dan
lebar disertai elevasi segmen ST yang miring (slope
elevation) dan VAT (ventricle activation time) yang memanjang. Namun karena
perubahan ini terjadi hanya sebentar sehingga sering lolos dari perhatian.
Kenaikan enzim jantung
Kenaikan enzim jantung
Kompleks troponin (Tn) terdiri dari 3 subunit yaitu
TnC, Tnl, dan Tnt. Enzim ini mengatur proses kontraktifitas miosit yang
tergantung Ca, TnT adalah yang paling sensitif dan dapat terdeteksi di dalam
darah dalam waktu 2-4 jam setelah muncul gejala IMA. Nilai positif troponin
adalah di atas 0,1 ug/dl (normal 0,05 ug/dl). Creatine kinase myocardial band
(CKMB) adalah isoenzim dari CK yang lebih spesifik mewakili enzim miokard, maka
beberapa laboratorium mendiagnosis IMA bila kenaikan nilai CKMB (normal < 16
u/L atau < 4% total CK) melebihi 6 % dari CK (normal 32-267 u/L). Walaupun
demikian CKMB merupakan enzim yang kurang sensitif dan spesifik dibandingkan
dengan troponin. CKMB sangat berguna untuk mendiagnosis reinfark. CKMB dibagi menjadi
MB I (berasal dari serum) dan MB 2 (berasal dari miokard). Ratio yang normal
dari kedua isoenzim ini adalah 1,0. Apabila ratio MB2/MBI > 1,5, maka
diagnosis infark miokard dapat ditegakkan. Creatine kinase (CK) memiliki
sensitivitas dan spesifitas yang rendah untuk kerusakan otot jantung, karena
enzim ini ditemukan di otot skelet, otak, ginjal, paru, dan jaringan organ
lain. CK meningkat setelah 3-8 jam terjadi IMA, mencapai konsentrasi maksimal
setelah 24 jam serangan, kemudian kembali ke nilai normal setelah 72 jam
serangan.
Penatalaksanaan
, Intervensi dari AMI ditujukan pada:
1. Mengatasi
nyeri dada dan perasaan takut
2. Menstabilkan
hemodinamik
3. Reperfusi
miokard secepatnya dengan trombolik.
4. Mencegah
komplikasi.
Tatalaksana
umum
1. Oksigen
: Suplemen oksigen harus diberikan pada pasien dengan saturasi oksigen arteri
<90%. Pada semua pasien STEMI tanpa komplikasi dapat diberikan oksigen
selama 6 jam pertama.
2. Nitrogliserin
(NTG) : Nitrogliserin sublingual dapat diberikan dengan aman dengan dosis 0,4
mg dan dapat diberikan sampai 3 dosis dengan interval 5 menit. Selain
mengurangi nyeri dada, NTG juga dapat menurunkan kebutuhan oksigen dengan
menurunkan preload dan meningkatkan suplai oksigen miokard dengan cara dilatasi
pembuluh darah koroner yang terkena infark atau pembuluh darah kolateral. Jika
nyeri dada terus berlangsung dapat diberikan NTG intravena. NTG IV juga dapat
diberikan untuk mengendalikan hipertensi dan edema paru.
3. Mengurangi/menghilangkan
nyeri dada. sangat penting, karena nyeri dikaitkan dengan aktivasi simpatis
yang menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban jantung. Morfin. Morfin
sangat efektif mengurangi nyeri dada dan merupakan analgesik pilihan dalam
tatalaksana nyeri dada pada STEMI. Morfin diberikan dengan dosis 2-4 mg dan
dapat diulangi dengan interval 5-15 menit sampai dosis total 20 mg. Efek
samping yang perlu diwaspadai pada pemberian morfin adalah konstriksi vena dan
arteriolar melalui penurunan, sehingga terjadi pooling vena yang akan
mengurangi curah jantung dan tekanan arteri. Efek hemodinamik ini dapat diatasi
dengan elevasi tungkai dan pada kondisi tertentu diperlukan penambahan cairan
IV dengan NaCl 0,9%. Morfin juga dapat menyebabkan efek vagotonik yang
menyebabkan bradikardia atau blok jantung derajat tinggi, terutama pasien
dengan infark posterior. Efek ini biasanya dapat diatasi dengan pemberian
atropine 0,5 mg IV. Penyekat beta. Jika morfin tidak berhasil mengurangi nyeri
dada, pemberian penyekat beta IV, selain nitrat, mungkin efektif. Regimen yang
biasa diberikan adalah metoprolol 5 mg setiap 2-5 menit sampai total 3 dosis,
dengan syarat frekuensi jantung >60 kali/menit, tekanan darah sistolik
>100 mmHg, interval PR <0,24 detik dan rhonki <10 cm dari diafragma.
15 menit setelah dosis IV terakhir dilanjutkan dengan metoprolol oral dengan
dosis 50 mg tiap 6 jam selama 48 jam, dan dilanjutkan 100 mg tiap 12 jam.
4. Aspirin.
Aspirin merupakan tatalaksana dasar pada pasien yang dicurigai STEMI dan
efektif pada spektrum SKA. Inhibisi cepat siklooksigenase trombosit yang
dilanjutkan reduksi kadar tromboksan A2 dicapai dengan absorpsi aspirin bukkal
dengan dosis 160-325 mg di UGD. Selanjutnya aspirin diberikan oral dengan dosis
75-162 mg.
5. Terapi
reperfusi. Reperfusi dini akan memperpendek lama oklusi koroner, meminimalkan
derajat disfungsi dan dilatasi ventrikel dan mengurangi kemungkinan pasien
STEMI berkembang menjadi pump failure atau takiaritmia ventrikular yang
maligna. Sasaran terapi reperfusi adalah door-to-needle time untuk memulai
terapi fibrinolitik dapat dicapai dalam 30 menit atau door-to-balloon time
untuk PCI dapat dicapai dalam 90 menit.
6. Fibrinolisis
: Tujuan utama fibrinolisis adalah restorasi cepat patensi arteri koroner.
Terdapat beberapa macam obat fibrinolitik a.l: tissue plasminogen activator
(tPA), streptokinase, tenekteplase (TNK) dan reteplase (rpA). Semua obat ini
bekerja dengan cara memicu konversi plasminogen menjadi plasmin, yang
selanjutnya melisiskan trombus fibrin. Terdapat 2 kelompok, yaitu: golongan
spesifik fibrin seperti tPA dan nonspesifik fibrin seperti streptokinase. tPA
dan aktivator plasminogen spesifik fibrin lain sepeti rPA dan TNK lebih efektif
daripada streptokinase dalam mengembalikan perfusi penuh, aliran koroner TIMI
grade 3 dan memperbaiki survival sedikit lebih baik.
Terapi Farmakologis
Antitrombotik
Tujuan primer pengobatan adalah untuk memantapkan
dan mempertahankan patensi arteri koroner yang terkait infark. Tujuan sekunder
adalah menurunkan tendensi pasien menjadi trombosis. Aspirin merupakan
antiplatelet standar pada STEMI. Obat anti trombin standar yang digunakan dalam
praktik klinis adalah unfractionated heparin. Pemberian UFH IV segera sebagai
tambahan terapi regimen aspirin dan obat trombolitik spesifik fibrin membantu
trombolisis dan memantapkan dan mempertahankan patensi arteri yang terkait
infark. Dosis yang direkomendasikan adalah bolus 60 U/kg (maksimum 4000 U)
dilanjutkan infus inisial 12 U/kg perjam (maksimum 1000 U/jam). APTT selama
terapi pemeliharaan harus mencapai 1,5-2 kali. Antikoagulan alternatif pada
pasien STEMI adalah low-molecular-weight heparin (LMWH). Pada penelitian
ASSENT-3 enoksaparin dengan tenekteplase dosis penuh memperbaiki mortalitas,
reinfark di RS dan iskemia refrakter di RS.
Penyekat beta (Beta-blocker)
Penyekat beta (Beta-blocker)
Manfaat penyekat beta pada pasien STEMI dapat dibagi
menjadi: yang terjadi segera bila obat diberikan secara akut dan yang diberikan
dalam jangka panjang jika obat diberikan untuk pencegahan sekunder setelah
infark. Pemberian penyekat beta akut IV memperbaiki keseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen miokard, mengurangi nyeri, mengurangi luasnya infark, dan
menurunkan risiko kejadian aritmia ventrikel yang serius.Terapi penyekat beta
pasca STEMI bermanfaat untuk sebagian besar pasien termasuk yang mendapat
terapi inhibitor ACE, kecuali pada pasien dengan kontraindikasi (pasien dengan
gagal jantung atau fungsi sistolik ventrikel kiri sangat menurun, blok jantung,
hipotensi ortostatik atau riwayat asma).
ACE Inhibitor
ACE Inhibitor
ACE inhibitor menurunkan mortalitas pasca STEMI dan
manfaat terhadap mortalitas bertambah dengan penambahan aspirin dan penyekat
beta. Penelitian SAVE, AIRE, dan TRACE menunjukkan manfaat inhibitor ACE yang
jelas. Manfaat maksimal tampak pada pasien dengan risiko tinggi (pasien usia
lanjut atau infark inferior, riwayat infark sebelumnya dan/atau fungsi
ventrikel kiri menurun global), namun bukti menunjukkan manfaat jangka pendek
terjadi jika inhibitor ACE diberikan pada semua pasien dengan hemodinamik
stabil pada STEMI (pasien dengan tekanan darah sistolik >100 mmHg).
Mekanismenya melibatkan penurunan remodeling ventrikel pasca infark dengan
penurunan risiko gagal jantung. Kejadian infark berulang juga lebih rendah pada
pasien yang mendapat inhibitor ACE menahun pasca infark. Inhibitor ACE harus
diberikan dalam 24 jam pertama pasien STEMI. Pemberian inhibitor ACE harus
dilanjutkan tanpa batas pada pasien dengan bukti klinis gagal jantung, pada
pasien dengan dengan pemeriksaan pencitraan menunjukkan penurunan fungsi
ventrikel kiri secara global atau terdapat abnormalitas gerakan dinding global,
atau pasien hipertensif. Penelitian klinis dalam tatalaksana pasien gagal
jantung termasuk data dari penelitian pada pasien STEMI menunjukkan bahwa ARB
mungkin bermanfaat pada pasien dengan fungsi ventrikel kiri menuru
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering pada IMA adalah
aritmia dan gagal jantung. Komplikasi yang lain adalah syok kardiogenik, ruptur
septum atau dinding ventrikel, perikarditis, dan tromboemboli.
Prognosis
Prognosis
Terdapat beberapa sistem dalam menentukan prognosis
pasca IMA. Klasifikasi Killip, berdasarkan pemeriksaan fisik bedside sederhana,
S3 gallop, kongesti paru dan syok kardiogenik.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya
jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah
koroner berkurang. Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran
darah ke otot jantung terganggu.
Gejala yang sering muncul pada penderita infark miokardium biasanya nyeri dada
yang tiba – tiba dan berlangsung terus menerus, nyeri akan terasa semakin berat
sampai tidak tertahankan, rasa nyeri yang tajam dan berat, biasa menyebar
kebahu dan lengan dan biasanya lengan kiri. Dan menetap selama berjam -
jam sampai beberapa hari dan tidak akan hilang dengan istirahat maupun
nitrogliserin, nyeri biasanya sering diserai napas pendek, pucat, berkeringat
dingin, pusing kepala,mual dan muntah – muntah.
Komplikasi yang paling sering pada IMA adalah
aritmia dan gagal jantung. Komplikasi yang lain adalah syok kardiogenik, ruptur
septum atau dinding ventrikel, perikarditis, dan tromboemboli.
SARAN
- Mahasiswa mengerti tentang infrak miokardium stemi dan nstemi
- Mahasiswa dapat menangani pasien terkena infrak miokardium
DAFTAR PUSTAKA
Fauci,
Braunwald, Kaser, Hauser, Longo, Jameson, etc, editors. Unstable Angina and
Non-ST-Elevation Myocardial Infarction. In: Harrison's principles of internal
medicine, Seventeenth Edition. United States of America: The McGraw-Hill
Companies; 2008.
Http://irapanussa.blogspot.co.id/2014/06/infark-miocard_9.html
( Rabu ,18 Mei 2016)
Kabo,
Peter. Penyakit jantung koroner. Dalam: Bagaimana Menggunakan Obat-obat
Kardiovaskular Secara Rasional. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012.
hal:138-147.
Munaf,
M. Prevalensi kejadian hipertensi pada penyakit infark miokard di Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adama Malik.Medan. Universitas Sumatera Utara; 2010.
Thaler
MS. Iskemia dan infark miokardium. Dalam: Saru-satunya Buku EKG yang Anda
Perlukan. Edisi 5. Jakarta: EGC; 2009. hal: 210, 224,226.